Cerita Seks Telpon Nyasar Berujung Ngentot

Sabtu, April 30th, 2016 - Cerita Sex Perawan, Cerita Sex Tante
Itil news

Cerita Sex PanasCerita Seks Telpon Nyasar Berujung Ngentot, kumpulan cerita dewasa terbaru paling hot, cerita sex bergambar, cerita ngentot tante, cerita mesum abg, cerita seks panas 2017.

Kebiasaanku sejak kuliah emang gak bisa aku ubah, aku yang hobby seka iseng sms-sms kenomer yang tinggal aku acak sering kali berujung cacian dari orang yang aku gak kenal tersebut. Kadang juga dapat yag membalasnya dengan ramah, bahkan ada juga yang sampai berteman sampai sekarang, tapi cacian lebih banyak karena setelah smsku dibales aku terus sms yang jorok-jorok kepada orang itu, tapi yang perlu diketaui aku hanya meneruskan isengku itu jika nomer yang aku ack adalah nomer wanita karena aku masih normal dan mash menyukai wanita, hehe.. itulah kebiasaan burukku yang tak pernah bisa berubah.

Cerita Seks Telpon Nyasar Berujung Ngentot

Cerita Seks Telpon Nyasar Berujung Ngentot

Namaku Arman, sekarang aku sudah lulus dari kuliah dan aku sekarang sudah bekerja disebuah kantor koperasi. Jika aku sedang longgar tidak ada kerjaan, kebiasaanku muncul kembali, aku sering tertawa sendiri dikantor hingga aku dikatakan yang tidak-tidak oleh temanku. Aku sering ketawa ngakak ketika aku medapat caci maki karena aku merasa aku berhasil. Sampai suatu ketika aku sms nomer acak tapi yang aku sms ini membalasnya dengan sangat baik dan halus kata-katanya. Ini baru pertama kali yang aku menemukan orang yang seperti ini. Jaran-jarang aku mendapatkan balasan sms secara halus kayak gini. Cerita Sex Terbaru

Dari sms itu akhirnya aku mengajaknya berkeArmann dan aku pun mengetahui namanya adalah Okta. Setalah iseng sms ku hari itu dan aku mendapatkan balasan yang sangat nyaman, aku lantas melanjutkan hubungan kita hanya melalui HP. Semakin hari kini aku sering menelponnya saat istirahat kerja dan Okta orangnya sangat enak untuk diajak mengobrol. sempat aku tanyakan kepadanya apakah Okta sudah mempunyai cowok, Okta pun menjawab belum. Aku lebih bersemangat mendekatinya, karena kalau didengar dari suaranya Okta ini orangnya cantik. Suaranya yang lembut, nadanya yang manis, membuat aku ketagihan untuk selalu menelponnya. Cerita Mesum

Seminggu kami sms dan telpon-telponan, aku berniat mengajak Okta untuk ketemuan. Ketika jam istirahat aku langsung menelponnya, dan setelah aku ajak Okta untuk ketemu Okta pun juga mau, lantas kami janjian disebuah cafe yang ada di mall. Keesokan harinya aku lantas ijin untuk tidak bekerja, dan aku berdandan sangat rapi. Jam 10 aku langsung meluncur ke cafe dan sampai disana aku merasa kebingungan karena aku belum pernah melihat Okta sama sekali. Sampai depan cafe, aku mengambil HP ku dan aku menelpon Okta sambil aku memandangi seisi café tercebut karena pada siang itu suasana cafe belum ramai, jadi aku bisa melihat semuanya. Cerita Sex ABG

Setelah aku telpon, terlihat dari kejauhan ada seorang wanita yang mengangkat telponnya, dan “kamu pakai baju putih ya Okt” tanyaku. “Iyha mas, kamu udah sampai ya??” tanya Okta balik. “Iyha aku sudah sampai, aku langsung kesitu” jawabku bersemangat. Aku langsung menghampiri Okta, dan samai dimejanya aku sangat tertegu melihat penampilan Okta, orangnya cantik sekali, kulitnya putih kecoklat-coklatan, rambutnya panjang sepinggang, payudaranya padat berisi, dan yang membuat aku klepek-klepek adalah senyumnya yang sangat manis sekali dihiasi dengan lesung di pipinya, aku seperti mimpi saja. dan saat aku bengongn, Okta menegurku “Eeehhh…Mask ok bengong ngliat apa??”. “Eeennngg…Eeennggg…Gaaak ngeliat apa-apa kok Okt, maaf ya kamu udah menunggu” jawabku sambil sedikit bengong dengan penampilan Okta. Cerita Sex DaunMuda

Setelah itu kami langsung memesan makanan, kita juga sambil mengobrol. tak berapa lama makanan datang dan Kami berbicara sebentar sambil menikmati makanan di sebuah food court. “Arman, suka nyanyi-nyanyi gak??” tanya Okta setelah kami selesai makan. “Suka, tapi tidak di depan umum” begitu jawabku. “Sama dong Kalo gitu, mau gak kamu saya ajak untuk nyanyi di karaoke Kita bisa pesan private room kok, jadi tidak ada orang lain” tanya Okta. “Asyik juga ya, untuk melepas lelah” jawabku. Segera kami meluncur ke sebuah karaoke terdekat menggunakan mobilku. Cerita Sex Perawan

Setibanya di sana, kami memesan tempat untuk dua orang. Kami segera dituntun masuk oleh seorang wanita. Ruangannya agak remang-remang, dan ditutupi gorden, jadi memang tidak akan terlihat dari luar. Sambil waitress menyiapkan ruangan, kami memesan minuman. Okta permisi kepadaAku untuk ke toilet. Tepat setelah waitress menyiapkan ruangan dan minuman, Okta kembali. Kurasa agak aneh waktu itu karena aroma wewangiannya kian tajam. Namun, tidak kupedulikan.Segera kami mulai memasang lagu kesukaan kami, dan kami bernyanyi-nyanyi. Sampai tibalah kami di lagu yang kelima. Okta memesan lagu yang lembut, dan agak romantis. Sebelum lagu tersebut dimulai, tak sengaja punggung tanganku menyentuh punggung tangan Okta. Halus sekali, pikirku. Sayang sekali tanganku untuk berpindah dari punggung tangannya, sehingga kubiarkan saja di situ. Okta pun diam saja, tidak berusaha melepaskan sentuhan tangannya dari tanganku. Dingin ya?, tanya Okta, kepadaAku, sambil melihat tanganku. Iya, jawabku mengangguk lemah. Segera Okta mendekatkan tanganku ke tangannya. Tanganku segera menggenggam jari-jarinya. Cerita Sex Tante

Kami bernyanyi sambil menikmati kehangatan tersebut. Pelan-pelan, naluriku mulai berjalan. Ingin sekali Aku mengelus pipinya yang lembut, namun Aku agak takut-takut. Perlahan-lahan Okta mendekatkan bahunya ke bahuku sehingga kami duduk sangat dekat.Wangi aroma tubuh Okta segera membius diriku. Tak kupedulikan lagi ketakutanku. Segera kubelai pipi dan kening Okta. Ia menatapku. Aku balas menatapnya. Lalu kuusap lembut rambutnya. Darah kelelakianku segera berdesir. Kukecup keningnya. Okta diam saja. Kukecup rambut dan pipinya, segera aroma tubuhnya kembali membius diriku. Okta benar-benar kuperlakukan seperti pacarku sendiri. Cerita Sex HOT

Tiba-tiba timbul gelora yang besar untuk memeluknya. Okta sepertinya mengerti karena dia segera mengubah posisi duduknya sehingga memudahkanku untuk memeluknya. Segera kupeluk Okta dengan rasa sayang.Tiba-tiba Okta menarik tanganku ke dada kirinya. Segera kurasakan bagian lembut kewanitaannya tersebut. Nikmat sekali, namun dengan rasa agak takut. Pelan-pelan kusentuh buah dadanya yang lembut itu. Okta diam saja. Aku mulai berani. Ku elus-elus buah dadanya, perlahan-lahan, dengan gerakan memutar, tanpa menyentuh bagian putingnya. Aku semakin berani. Tangan kananku kumasukkan ke dalam sweater merahnya. Segera ku elus bukit lembut tersebut di bagian pinggirannya. Ku putar-putar tanganku mengelilingi putingnya. Setelah beberapa saat, kusentuh putingnya. Ternyata putingnya sudah mengeras. Lalu kuremas dengan lembut. Okta mendesah. Ssshh, desahnya.Kulanjutkan penjelajahanku ke dada kanannya. Kuulangi hal yang sama. Lagi-lagi Okta mendesah. Segera ia memagut bibirku, dan melumatnya. Saat kujulurkan lidahku, segera dihisapnya kuat-kuat. Oh, nikmat sekali berciuman seperti ini, pikirku karena memang Aku belum pernah berciuman dengan wanita. Badanku bergetar hebat, karena Aku belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Kami lanjutkan permainan kami beberapa saat. Setelah itu, kami berhenti untuk menikmati minuman kami.

Kusodorkan sedotan minumanku untuk diminum terlebih dulu oleh Okta. Kemudian kami lanjutkan nyanyian kami sambil berpelukan. Nyaman sekali rasanya saat itu.Kuteruskan permainan tanganku dengan lembut, mengelus dan meremas dengan lembut buah dada Okta. Okta kembali memagut bibirku. Kami berciuman hebat. Tiba-tiba Okta menarik tanganku, dan memasukan tanganku ke dalam celana panjangnya. Segera terasa bulu-bulu halus kemaluannya tersentuh oleh tanganku. Pelan-pelan kudorong tanganku ke bawah, menuju organ intimnya. Segera terasa tanganku menyentuh Memeknya yang hangat dan basah. Montok kan punya gua?, begitu ungkap Okta saat tanganku mengelus lembut Memeknya. Segera kuiyakan pertanyaannya itu, padahal Aku tidak bisa membedakan seperti apa Memek yang tidak montok. Kuusap terus Memeknya, seraya desahan Okta mengiringi gerakanku.

“Ssshhh.. Oh, Arman, Baru kamu laki-laki yang bisa memperlakukanku dengan lembut” begitu terus desahnya. Tersanjung juga Aku dipuji dirinya.Kami terus bercumbu sampai tak terasa dua jam berlalu. Arman, kamu jangan pulang dulu ya. Aku ingin dikelonin sama kamu. Temani sebentar Aku di hotel ya?, tanya Okta kepadaku. Saat itu, Aku agak takut. Takut Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tidur dengannya. Segera kuingat ajaran2 agama yang melarangku melakukannya. Namun sepertinya Okta mengerti ketakutanku. Aku cuma minta dibelai kok. Tidak lebih. Ya, Arman?, tanyanya dengan mata memohon. Berat sekali rasanya untuk mengiyakan permintaannya. Di satu sisi, Aku takut sekali melanggar ajaran agama. Lagipula, Aku banyak tugas yang malam itu harus kuselesaikan. Namun sisi kemanusiaanku membuat Aku tidak tega menolaknya. Baiklah, tapi tidak lebih dari itu ya?, jawabku. Iya, gua janji deh, kata Okta lagi.

Kami segera keluar dari ruangan, membayar ke kasir, dan meluncur ke sebuah hotel menggunakan mobilku. Okta menjadi penunjuk jalan. Setelah membayar uang deposit di kasir hotel, kami segera melenggang ke dalam kamar. Di dalam kamar, Aku menyalakan televisi. Sejenak kami menikmati sebuah film. Tak lama kemudian, Okta membentangkan tubuhnya di kamar tsb. Arman, sini dong, kata Okta. Aku mengubah posisi duduk ku di ranjang mendekati Okta. Aku dalam posisi duduk, sementara Okta sudah telentang. Arman, belai Aku lagi ya, kata Okta. Segera tanganku mengelus dahi Okta. Kuelus-elus dahinya beberapa lama, turun ke pipi, lalu ke rambutnya yang panjang. Okta menikmati gerakanku sambil menutup mata. Lalu kusandarkan tubuhku ke ranjang, kukecup lembut kening dan dahinya. Okta membuka matanya, tersenyum. Lalu kucium kelopak matanya. Okta benar-benar menikmati perlakuanku. Perlahan kukecup lembut bibirnya. Aku hanya menyentuhkan bibirku di bibirnya. Namun segera Okta menjerat bibirku di bibirnya. Dilumat bibirku dengan bergairah, sementara tangannya dengan kuat memelukku. Kujulurkan lidahku untuk menyentuh bibir bawahnya, namun Okta segera menghisap bibirku tersebut.

Segera kuarahkan ciumanku ke bagian telinganya, dan kujilat bagian dalam daun telinganya dengan lidahku.Okta meronta-ronta dan mendesah. Aduh Arman, geli sekali. Teruskan Arman, katanya. Kucumbu Okta terus di telinganya. Kemudian kuarahkan cumbuanku ke lehernya. Okta mendesah hebat. Ssshh.. sshh.. ohh, desah Okta. Aku tidak bisa menahan diriku lagi. Okta, boleh kubuka bajumu?, tanyaAku pelan kepada Okta. Okta mengangguk, tersenyum. Perlahan-lahan kubuka kancing bajunya. Terlihatlah tubuhnya yang putih mulus, dengan bra berwarna biru. Kulanjutkan ciumanku di seputar payudaranya. Tak lupa kukecup pelan ketiaknya yang bersih tanpa bulu. Okta mengerang. Arman, buka BH gua dong, pinta Okta. Segera kuarahkan tanganku ke punggungnya untuk membuka BHnya. Sulit sekali membuka BHnya. Maklum, belum pernah Aku membuka BH wanita.Setelah terbuka, pelan-pelan kutanggalkan BHnya. Segera tampak bukit indahnya yang putih bersih, tanpa cacat, dengan puting kecoklatan. Indah sekali, pikirku. Ingin sekali Aku menciumnya. Kupindahkan BHnya dan bajunya ke meja supaya tidak kusut.

Lalu, pelan-pelan kubasahi buah dadanya dengan lidahku. Kuputar wajahku memutari tokednya. Okta mendesah lagi. Gerakan itu terus kuulang beberapa kali, lalu berpindah ke toked kanannya. Di sana kuulangi lagi gerakanku sebelum akhirnya lidahku tiba di puncak tokednya. Kubasahi putingnya dengan lidahku, kumain-mainkan, kukulum, dan kuhisap. Okta mengerang-ngerang. Aduh, Arman..ssh..ssh.. geli sekali. Terus Arman… Sambil mengulum putingnya, pelan2 kuelus bagian perutnya. Auw.. enak Arman.., Okta menekan wajahku ke dadanya. Kira-kira 25 menit Okta kuperlakukan seperti itu.Arman, bukain celanaku dong.., pinta Okta. Segera kubuka kancing celananya, dan kupelorotkan ke bawah. Terlihatlah pahanya yang putih bersih, dan kewanitaannya yang masih tertutupi Celana Dalam warna hitam. Masih mengulum putingnya, segera kuarahkan tanganku ke selangkangannya. Kuelus-elus perlahan. Kugerakan tanganku dari dekat lututnya, terus bergerak sedikit demi sedikit ke arah pangkal pahanya.

Oouuuhh.., rintih Okta menahan kenikmatan yang kuberikan. Kuelus Memeknya yang masih tertutupi celana dalam. Ternyata celana dalamnya sudah basah. Kubelai pelan-pelan bagian tersebut. Okta meronta-ronta, dijepitnya tanganku dengan kedua belah pahanya. Oh.. ohh.. ronta Okta. Gantian tangan Okta yang masuk ke celana dalamku. Dipegangnya Penisku, lalu dikocok pelan-pelan. Uuh, nikmat sekali rasanya.. Arman, buka celana dalam gua.., pinta Okta. Jangan Okta, gua gak berani melakukan itu.. kataAku.Aku bukan bermaksud munafik, tapi Aku memang benar-benar takut saat itu, karena belum pernah melakukannya. Tak apa-apa, Arman, tidak usah dimasukin. Gua cuma minta diciumi aja, pinta Okta memohon. Akhirnya kubuka celana dalam Okta. Kunikmati pemandangan indah dihadapanku. Oh, indah sekali makhluk bernama wanita ini, pikirku. Elus lagi, Arman.., pinta Okta.

Perlahan-lahan, tanganku mulai mengelus bibir Memeknya yang sudah basah. Kuputar-putar jariku dengan lembut di sana. Lagi-lagi Okta meronta. Ohh..ohh. Ke atas lagi Arman. Elus klitorisku, begitu desahnya perlahan. Aku tidak tahu persis di mana klitoris. Aku terus mengelus bibir Memeknya. Segera tangan Okta membimbing tanganku ke klitorisnya.Baru sekali itu Aku tahu bentuk klitoris. Mungil dan menggemaskan. Dengan lembut kuputar-putar jariku di atas klitorisnya. Setiap 8 putaran, Okta langsung mengepit tanganku dengan pahanya. Sepertinya ia benar2 menikmati perlakuanku. Arman, tolong hisap klitorisku, yah?, pinta Okta. Aku sedikit ragu, dan jijik. Pake tangan aja yah, Okta.., Aku berusaha menolak dengan halus. Tolong dong, Arman. Sekali ini saja. Nanti gantian deh , pinta Okta. Aku masih berat hati menghisapnya. Okta, maaf ya. Tapi kan itu kemaluan. Apa nanti… Belum selesai Aku bicara, Okta segera memotongku. Kemaluanku bersih kok, Arman. Aku selalu menggunakan antiseptik. Tolong ya.. sebentar saja, kok, pinta Okta lagi.Perlahan-lahan kudekatkan mulutku ke memeknya Okta. Segera tercium aroma yang tidak bisa kugambarkan. Perlahan-lahan kujulurkan lidahku ke klitorisnya. Aku takut sekali kalau rasanya tidak enak atau bau. Kukecap lidahku ke Memeknya. Ternyata tawar, tidak ada rasa apa-apa. Terus, Arman..ohh.. enak sekali, desah Okta. Kuulangi lagi, pelan-pelan. Lama-lama rasa takut dan jijikku hilang, malah berganti dengan gairah. Kuulang-ulang menjilati Memeknya. Okta makin mendesah.

“Oooggghhhh.. Oouuhh.. Oouuhh.. Oouuhh…” Okta menggenggam jari telunjukku, lalu memasukkan ke dalam liang Memeknya. Kamu nanti tidak kesakitan?, tanyaku kepadanya. Ia menggeleng pelan. Lalu, kuputar-putar jariku di dalam Memeknya. Ahh.., Okta menjerit kecil. Kuputar jariku tanpa menghentikan jilatanku ke Memeknya.Saat kuarahkan jariku ke langit-langit memeknya, terasa ada bagian yang agak kasar. Kuelus pelan bagian tersebut, berkali-kali. ‘Ya, terus di situ Arman.. ahh.. enak sekali.. Kuteruskan untuk beberapa saat. Okta makin membuka lebar-lebar pahanya. Tiba-tiba Okta menggerakkan pantatnya ke atas dan bawah, berlawanan dengan arah jilatanku. Ah Arman.. Aku mau keluaar.. erang Okta. Okta makin mempercepat gerakannya, dan tiba-tiba gerakan pantatnya dia hentikan, lalu dikepitnya kepalaAku dengan pahanya. Ahh.. Arman..Aku keluar, desahnya. Segera kupeluk tubuh Okta, dan kugenggam tangannya erat.

Kubiarkan Okta menikmati orgasmenya. Setelah beberapa saat, kuelus-elus dahi dan rambutnya. Arman, enak sekali, kata Okta. Aku diam saja.Sekarang gantian, ya, kata Okta. Aku mengangguk pasrah, antara mau dan takut. Diputarnya tubuhku sehingga tubuhnya menindih tubuhku sekarang. Dibukanya celana dan celana dalamku. Malu sekali rasanya saat itu. Segera kututupi Penisku yang masih terduduk lemas. Sepertinya Okta mengerti perasaanku. Ia segera mematikan lampu kamar. Aku merasa lebih tenang jadinya. Lalu, dibukanya pahaAku yang menutupi Penisku. Okta segera meraba-raba Penisku. Oh, geli sekali rasanya. Rasa geli itu membuatku secara refleks menggelinjang. Okta tertawa. Enak kan, Arman? tanyanya menggodaAku. Sial nih orang, pikirku. Dikerjain gua. Mau diterusin gak, Arman? tanya Okta sambil menggoda lagi. Aku hanya mengangguk.Saat itu Penisku belum berdiri. Aneh sekali. Padahal biasanya kalo melihat adegan yg sedikit porno, punyaAku langsung keras.

Akhirnya Okta mendekatkan mulutnya ke Penisku. Dikecupnya ujung Penisku perlahan. Ada getaran dashyat dalam diriku saat kecupannya mendarat di sana. Arman, punya kamu enak. Bersih dan terawat, ujar Okta. Geer juga Aku dipuji begitu. Dipegangnya gagang Penisku, lalu Okta mulai menjilati Penisku. Ya ampun, pikirku. Geli sekali.. Secara reflek Aku meronta, melepaskan Penisku dari mulut Okta. Kenapa, Arman?, tanya Okta. Gua gak tahan. Geli banget, sih?, kataAku protes. Ya udah, pelan-pelan aja, ya?, kata Okta. Aku mengangguk lagi. Okta mulai memperlambat tempo permainannya. Rasa geli masih menjalari tubuhku, tapi dengan diikuti rasa nyaman.Kuperhatikan Okta menjilati Penisku, tak terasa Penisku segera mengeras. Okta senang sekali melihatnya. Segera dilahap kembali Penisku itu, kali ini sambil dikocok-kocok dengan tangannya.

Sekali lagi Aku disiksanya dengan rasa geli yang amat sangat. Kunikmati permainannya, tak terkira nikmatnya. Ya ampun, baru sekali ini kurasakan kenikmatan yang tiada tara seperti ini. Ah.., tak kuasa Aku menahan desahanku. Arman, kumasukan ya punyamu?, tanya Okta. “Nanti kamu sakit, gak??”, tanyaAku. Aku sudah tak bisa menguasai diri lagi. Ingin sekali rasanya Penisku dikepit oleh Memeknya. Ya, kalau Aku yang ngontrol sih, gak sakit, kata Okta. Ya udah, kamu yang di atas aja, kataAku kepadanya.Okta segera mengubah posisi tubuhnya. Ia kangkangkan pahanya di atas tubuhku, lalu pelan-pelan dibimbingnya Penisku menuju liang Penisnya. Ditekannya sedikit, masuklah sedikit ujung Penisku ke dalam. Terasa sedikit basah dan licin kemaluannya. Didiamkan punyaAku di sana utk beberapa saat. Aku diam menunggu. Lalu ditekannya sedikit lagi. Kali ini punyaAku masuk lebih dalam dan makin terasa cairan pelicin kemaluannya.

Sudah sepertiga dari panjang Penisku yang berada dalam Memeknya. Dia diamkan lagi Penisku di sana beberapa saat. Ia sedikit mengernyit. Sakit?, kutanya. Iya, tapi gak apa2. , jawab Okta. Kemudian ia mendorong Penisku makin dalam, hingga akhirnya semua Penisku tertelan di dalam Memeknya. Terasa basah dan hangat Memeknya. Nikmat dan geli sekali rasanya. Setelah beberapa saat, Okta mulai menggerakkan pinggulnya naik dan turun. Ahh.. enak sekali menikmati Penisku terjepit dalam Memek Okta. Gerakan pantat Okta membuat Penisku terkocok, dan segera Aku merasakan kenikmatan yang tiada tara. Okta pun seakan-akan begitu. Ohh.. ohh.. ohh.. ohh, Okta mengerang-ngerang.

Okta terus menggerakan pinggulnya naik dan turun selama beberapa saat dengan diiringi desahan. Tiba-tiba ia berhenti. Entah mengapa tiba-tiba ada perasaan kesal dalam diriku. Namun, ternyata Okta tidak berhenti begitu saja. Kini pinggulnya digerakan tidak naik-turun lagi, tapi maju mundur, dan terkadang berputar. Sepertinya Okta sangat menikmati gerakan ini, terbukti erangannya semakin sering. Ah.. ah.. ahh.. ahh.., desahnya terus, tanpa henti. Kuremas dengan lembut payudaranya, Okta makin merintih. Sssh.. ssh.. sshh.. enak Arman.

Makin lama gerakan Okta makin cepat. Arman, Aku mau keluar lagi, Arman.. rintihnya. Aku pun merasa Penisku berdenyut kencang. Okta, tolong lepaskan, Aku mau keluar, kataAku. Aku takut sekali kalau sampai Okta hamil. Tapi Okta tidak mau melepaskan Penisku. Ditekannya kuat tanganku dengan kedua tangannya sehingga Aku tidak bisa melepaskan diri darinya. Tiba-tiba kurasa Penisku menyemburkan cairan kuat di dalam Memeknya. Aduh, Okta, jangan.. nanti kamu hamil.., teriakku, sesaat sebelum cairanku keluar. Tapi semua sudah terlambat. Semua cairanku sudah keluar dalam Memeknya. Nikmat sekali rasanya, namun terasa lemas tubuhku sesudahnya. Segera otot-otot Penisku mengerut, dan menjadi kecil kembali.Okta dengan kecewa melepaskan Penisku. Okta, kalo kamu hamil gimana, tanyaAku dengan setengah takut. Tenang aja, Arman. Gua pake alat kontrasepsi kok. Kamu gak perlu takut, ya?, kata Okta menenangkan diriku. Kemudian, Okta segera memijat-mijt Penisku. Dielus, dan di kulum lagi seperti tadi.

Tak lama, Penisku segera mengejang lagi. Segera Penisku dimasukan lagi oleh Okta ke Memeknya. Kembali Okta melakukan gerakan maju mundur tadi. “Ooggghhhh.. Oouuuhhhh.. OouuUuuhh.. OoUuuuhh, erangnya”. Kuremas lembut toketnya. Ssshh.. sshh.. sshh, begitu terus rintihannya. Selama beberapa saat Okta mengocok Penisku dengan Memeknya, sampai akhirnya dia berteriak. Arman, Aku hampir keluar, desah Okta. Segera Okta mempercepat gerakannya. Aku pun membantunya dengan menggerakan pinggulku berlawanan dengan arah gerakannya. Ahh.. Arman, Aku keluar, desahnya agak keras. Sejenak ia menikmati orgasmenya, sebelum rubuh ke dalam pelukanku. Kubiarkan ia menikmati orgasmenya, kuelus rambutnya, dan kukecup keningnya. Kami berpelukan, dan tidur tanpa busana sampai pagi hari.

Alangkah Indahnya Hidup ini dibuat oleh Okta dan Aku tak akan pernah melupakan kenangan terindah di malam pertama bersama Okta walaupun kini Aku gak tau kabarnya si Okta ini. end by www.ceritasexpanas.org – cerita sex, cerita dewasa, cerita mesum, cerita ngentot.

Lihat juga cerita sebelumnya yang tak kalah serunya untuk dibaca Cerita Seks Tanteku Semok Suka Dientot

(Visited 25 times, 1 visits today)
itil performance managementreview foundation
Cerita Seks Telpon Nyasar Berujung Ngentot
by: | Rating: 5